Angkot Kian Terlupakan, Pemkot Bandung Dinilai tak Konsisten

Angkot Kian Terlupakan, Pemkot Bandung Dinilai tak Konsisten Angkot Angklung, program inovasi transportasi umum di Kota Bandung yang kini tak jelas arahnya. ()
PINDAINEWS, Bandung - Eksistensi angkot di Kota Bandung terus tenggelam dan terlupakan. Sopir-sopir angkot 'menjerit' karena kehilangan penumpangnya yang sudah banyak beralih ke transportasi online.

Begitulah kira-kira yang dirasakan oleh pengemudi angkot saat ini seperti disampaikan Wakil Ketua 3 DPC Organda Kota Bandung, Udin Hidayat.

Udin menuturkan, segudang terobosan dan program untuk meningkatkan kesejahteraan sopir angkot yang diluncurkan seperti angkot angklung, angkot santun, angkot online maupun angkot pintar ternyata hanya gebrakan di awal, sedangkan kelanjutannya tak pernah dipikirkan lagi. Pemerintah dinilai tidak serius membenahi transportasi umum.

"Di Bandung terkenal kreatif, tapi itu hanya satu kali, keluar (programnya) tapi tidak diteruskan lagi. Tidak ada konsistensi dari program yang ada, katanya supir angkot mau digaji, terus ongkos murah, e-library dan lain-lain," ujar Udin di Bandung, Kamis (14/3/2019).

Hal ini pun semakin diperparah dengan terbitnya kebijakan yang mengharuskan ASN Pemerintah Kota Bandung menggunakan transportasi online ke kantor yaitu "Carpooling Grab to Work".

Udin mencatat, kerugian sejak hadirnya transportasi online di Bandung menyebabkan 60% angkot tidak beroperasi, salah satunya trayek Ciwastra-Cijerah. "Ciwastra-Cijerah asalnya ada 200 angkot, sekarang cuma 60 angkot. Angkot sekarang di ujung tanduk," tegasnya.

Dia juga mengungkapkan sejumlah trayek angkot mulai mati atau disebut 'trayek kurus' yang banyak terjadi di wilayah perbatasan kota. Sebut saja jurusan Gedebage-Majalaya, terkadang dalam satu angkot hanya ada satu penumpang.

"Banyak trayek di jalan yang sudah sama dengan jalur transportasi online. Padahal satu angkot, bisa menggantikan tiga angkutan pribadi," pungkasnya.

Editor: Mohamad Taufik

Komentar

Tidak Ada Komentar.