Di Tengah Sanksi dan Pengurangan Opec, Harga Minyak Asia Stabil

Di Tengah Sanksi dan Pengurangan Opec, Harga Minyak Asia Stabil . (Ilustrasi/Antara)
PINDAINEWS - Harga minyak stabil di perdagangan Asia pada Jumat (15/3/2019) pagi, di tengah dukungan dari pengurangan pasokan yang sedang berlangsung dipimpin oleh OPEC serta sanksi-sanksi AS terhadap Venezuela dan Iran, tetapi terbebani oleh kekhawatiran bahwa perlambatan ekonomi akan segera mulai mengurangi pertumbuhan permintaan bahan bakar.

Patokan internasional, minyak mentah berjangka Brent diperdagangkan di 67,16 dolar AS per barel pada pukul 00.29 GMT (07.29 WIB), turun tujuh sen dari penutupan terakhir mereka, tetapi masih satu dolar dari 68,14 dolar AS per barel, harga tertinggi 2019 yang dicapai hari sebelumnya.

Patokan AS, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di 58,53 dolar AS per barel, turun delapan sen dari penyelesaian terakhir mereka, dan juga tidak jauh dari tertinggi 2019 mereka di 58,74 dolar AS hari sebelumnya.

Terlepas dari penurunan Jumat, minyak mentah telah naik sekitar seperempat nilainya sejak awal tahun.

"Minyak mentah terus bergerak lebih tinggi ... dalam menanggapi pemotongan produksi yang sedang berlangsung dari kelompok produsen OPEC+ serta kemerosotan (output) lain dari Venezuela," kata Kepala Strategi Komoditas Saxo, Bank Denmark, Ole Hansen.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu tidak terafiliasi seperti Rusia - yang dikenal sebagai aliansi OPEC+ - telah berjanji untuk menahan 1,2 juta barel per hari (bph) dalam pasokan minyak sejak awal tahun untuk memperketat pasar dan menopang harga.

Sementara itu, krisis politik dan ekonomi di Venezuela dikombinasikan dengan sanksi-sanksi AS terhadap Venezuela dan Iran, telah semakin memperketat pasar minyak.

Menahan harga minyak mentah dari kenaikan lebih lanjut adalah kekhawatiran bahwa perlambatan ekonomi global yang telah mencengkeram sebagian besar Asia dan Eropa, dan menunjukkan tanda-tanda menjalar ke Amerika Utara, akan segera mengurangi pertumbuhan permintaan minyak.

"(Tapi), kekhawatiran tentang pertumbuhan dan permintaan masa depan untuk minyak mentah tetap hanya kekhawatiran pada tahap ini," kata Hansen.

Penggunaan minyak mentah oleh kilang-kilang China dalam dua bulan pertama tahun 2019 naik 6,1 persen dari tahun sebelumnya ke rekor 12,68 juta barel per hari, data resmi menunjukkan minggu ini.


Editor: Daddy Mulyanto

Komentar

Tidak Ada Komentar.